Selamat malam Tuan yang akhir-akhir ini hilang dari hari-hariku walau aku tau kamu pasti sibuk urus kegiatan kampusmu, aku tidak tau persis sesibuk apa kamu sekarang tapi aku rasa kamu sudah kelewatan sibuk, entah itu memang sebuah tuntutan atau kamu yang sengaja mencari kesibukan itu. Hh ..kira-kira sudah berapa lama kita tidak bertemu? Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kita bertemu ,mungkin itu sekitar dua tahun yang lalu , bahkan sekarang aku mulai lupa bagaimana wajahmu, kau pasti makin kurus sekarang dibuat kesibukanmu, pernah sekali aku mendengarmu sedang sakit, kau tau? Aku benar-benar tidak tenang bahkan sempat menangis tengah malam, untuk menghubungimu pun aku gengsi dan aku benar-benar bingung saat itu, tiba-tiba aku ingin selalu ada untukmu, tiba-tiba aku ingin terbang kesana lalu menyiapkanmu sarapan, makan siang, makan malam dan obat-obatan untuk kamu santap, tiba-tiba aku ingin menemanimu sampai kau sembuh , ada disampingmu kapanpun kamu butuh diambilkan sesuatu , ingin menyelimuti saat kau tidur, ingin menggenggam tanganmu biar kamu kuat, sungguh aku yang jauh ini hanya bisa apa selain mendoakanmu?
Apakah kita memang butuh jeda panjang? Aku menulis ini saat rindu ku singgah mungkin hanya sebentar tapi aku tidak ingin melewatkannya walau hanya sedetikpun itu. Aku tidak peduli rinduku salah atau tidak. Aku hanya sekedar ingin mengetahui kabarmu, kekhawatiranku masih utuh, belum berkurang, jadi, bolehkah aku mendapat sedikit perhatianmu? aku sedang ingin bercakap-cakap denganmu ditengah-tengah kesibukan duniamu disela-sela waktu singkatmu, akan kujadikan itu sesuatu yang berharga tanpa kau harus taupun. Masih bolehkah aku mengingatkanmu beberapa hal yang berkaitan dengan kesehatanmu misalnya, agar kekhawatiranku tidak parah. Atau bolehkah aku hanya sekedar berbasa-basi dengan menanyakan kepulanganmu yang tidak pernah pasti itu? Atau bolehkah aku berharap kalau kita bisa bertemu lagi? .
Hh…aku tidak mengerti jalan apa yang kita ambil, apakah memang sudah tepat? Aku yakin dan percaya kau masih ingin kembali, tapi sesuatu diotakku menolakmu, namun hatiku tak bisa berhenti bicara jika akupun masih menginginkanmu. Haruskah kita salahkan keadaan yang ada? Atau yang pernah ada? Tapi rasanya sudah malas sekali menyalahkan apapun, toh merekapun ikut bisu . atau…haruskah aku marah saja pada jarak? Kenapa dia selalu jadi menyakitkan sekarang? Apakah kau bisa jawab tanyaku? Ataukah kesibukanmu sudah menarikmu jauh-jauh dari tulisanku?
Andai kau tau, menunggumu tak pernah mudah, mematikan rasa inipun tak pernah mudah, kau perlahan-lahan menjauh lalu pergi hingga tak dapat kugapai, kau kembali membawa waktu yang tidak tepat hingga kau hilang lagi dibalik jarak itu, yang masih jadi penjahat diantara kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar