Realistis. Aku benci
itu. Hidupku sudah penuh dengan khayalan sejak dulu.dan aku nyaman akan itu. Dan
akulah manusia itu, si keras kepala yang mempertahankan segala macam
khayalannya yang belum tentu benar. Mempertahankan argument yang selalu kalah
dari si realistis. Katanya, apa yang aku pikir itu tidak benar, apa yang aku
bayangkan itu tidak benar, lalu bagaimana kalau aku menyebutnya sebagai
firasat?. Hh.. kau tak akan percaya. Kaupun tak mengerti. Manusia seperti aku
ini memang penuh dengan buaian khayalan yang tidak masuk akal. Tak perlu kau
cemas, aku bisa menjadi lebih tenang bila kau maklumi aku. Tak perlu kau
tekankan bahwa akupun harus seperti mu, berpikir realistis karena memang dunia
ini nyata, apa yang didepanmu nyata. Aku tidak begitu, aku tak suka begitu. Aku
lebih suka dengan diriku, dengan tingkat khayalanku yang kau bilang terlalu
tinggi dan tidak masuk diakalmu. Jika
kau mau, mari memasuki ruang kecil yang berbeda dari duniamu, tapi menurutku
ruangan itu lebih besar dari sekedar duniamu. Aku bahkan bisa mengubahmu
menjadi kelinci raksasa dengan ekor kuda, jika aku mau. Kau tau? Khayalan itu
bebas, lalu gratis. Aku suka bosan menyaksikan duniamu, menyaksikan pikiranmu
yang penuh dengan peraturan diotakmu, yang ini harus begini, yang itu harus
begitu dan tidak bisa diubah. Kalau kau pikir hidup ini seperti matematika maka
aku lebih pilih hidupku sebagai ilmu social, kau bebas memainkan logikamu tanpa
terikat ilmu pasti. Dan sepertinya nyatanya akupun benci matematika. Kalau sekali-kali
kau ingin melihat dirimu jatuh dari Pluto ke bumi secara berulang-ulang, mari
masuk disisi tak masuk akalku, mungkin kau bisa merasakan aku yang
menginginkanmu begitu. kau tak bekhayal ? pernah tapi sekali lagi mengkhayalkan yang realistis, kau tau itu bagiku membosankan. mari duduk, minum kopi, dan buat kata-kata apa yang cocok untuk kopimu, antara hitam dan pahit yang mampir dibibirmu yang mungkin tak bisa berucap. karena mengarang kata. aku yang menang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar